majalengka

H. Baya Tegaskan Komitmen Jaga Tradisi Pencak Silat, Kampung Silat Majalengka Jadi Titik Awal

Linardo Indra
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:45 WIB
(dzeko)


Majalengka– Pencak silat bukan sekadar seni bela diri yang mengandalkan gerakan dan jurus. Di dalamnya terdapat nilai budaya, tradisi, serta identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Semangat itulah yang ingin dihidupkan melalui Festival Kampung Silat Nagarakembang 2026 di Desa Nagarakembang, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Digelar pada 29–30 Oktober 2026 di kawasan sawah terasering, festival ini mengusung tema “Bukan Sekadar Festival, Ini Tentang Apa yang Kita Tinggalkan”. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi pencak silat sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Sebanyak 200 pesilat cilik turut tampil dalam festival tersebut. Selain pertunjukan pencak silat, pengunjung juga disuguhi atraksi topeng versus pencug, pentas seni dan musik, serta UMKM dan pasar tradisional Kampung Silat.

Dewan Pembina dan Penasihat Federasi Pencak Silat Tradisi Indonesia (FPSTI), H. Baya, menyatakan dukungan penuh terhadap pemajuan budaya lokal agar dapat berkembang dan dikenal hingga tingkat internasional.

Menurutnya, menjaga tradisi tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan. Diperlukan komitmen bersama untuk memastikan budaya pencak silat tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Dengan tegas kami menyatakan siap untuk menjaga tradisi dan budaya. Kami mendukung penuh pemajuan budaya lokal agar tidak hanya dikenal di daerah, tetapi juga mampu menuju kancah internasional,” tegas H. Baya.

Bersama Presiden FPSTI, H. Baya menegaskan pentingnya membangun gerakan pelestarian pencak silat tradisional secara berkelanjutan.

Ia juga melihat keterlibatan anak-anak dalam festival tersebut sebagai bagian penting dari proses regenerasi. Kehadiran 200 pesilat cilik diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap pencak silat sekaligus membuka peluang pembinaan bibit-bibit unggul.

Selain menjadi Dewan Pembina dan Penasihat FPSTI, H. Baya juga menjabat Ketua Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Majalengka. Dalam pandangannya, Kampung Silat memiliki peluang untuk berkembang lebih luas sebagai kekuatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Keterlibatan seniman, pelaku UMKM, perajin, dan masyarakat sekitar dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata budaya yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Berawal dari keprihatinan terhadap tradisi yang kehilangan panggung

Pembina sekaligus Guru Utama Padepokan Pencak Silat Fajar Kencana Kumpay Kuning Putra (FKKKP), Muhammad Yusnil Azidda, mengungkapkan bahwa gagasan pembentukan Kampung Silat berawal dari keprihatinan terhadap semakin terbatasnya ruang pertunjukan bagi kesenian silat tradisional.

Menurut Yusnil, Desa Nagarakembang memiliki salah satu padepokan tua, yakni Padepokan Pagar Kencana, yang selama ini bergerak dalam pertunjukan silat tradisional.

Namun, perkembangan zaman membuat kesenian tersebut semakin jarang mendapatkan panggung.

“Karena pertunjukan ini tergilas oleh zaman, mungkin mereka sudah tidak mempunyai tempat untuk panggungannya lagi. Dari dasar itulah kita membuat Kampung Silat,” kata Yusnil.

Ia menjelaskan, pencak silat sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nagarakembang, mulai dari kalangan orang tua hingga anak-anak.

Gagasan Kampung Silat mulai dikembangkan pada 2022, ketika para pesilat setempat mengikuti kejuaraan tingkat nasional dan internasional.

Yusnil menyebut sekitar 30 persen warga Desa Nagarakembang terlibat dalam aktivitas budaya silat. Pengajaran pencak silat juga dilakukan di sejumlah sekolah di Kecamatan Cingambul dan Cikijing.

Melalui festival tersebut, ia berharap para pesilat dan seniman memiliki ruang untuk menampilkan kemampuan sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi.

Pemkab Majalengka dukung pelestarian pencak silat

Dukungan terhadap Festival Kampung Silat juga datang dari Pemerintah Kabupaten Majalengka.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka, Rachmat Kartono, mengatakan festival tersebut merupakan bagian dari upaya pemajuan kebudayaan daerah.

Kegiatan itu telah masuk dalam Calendar of Event Majalengka 2026 dan tercatat dalam agenda kebudayaan Jawa Barat.

Rachmat menilai pencak silat harus dipahami lebih luas daripada sekadar gerakan, jurus, maupun tontonan. Menurutnya, seni bela diri tradisional tersebut merupakan warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan.

“Kalau berbicara silat, jangan sampai hanya berbicara gerak, jurus, dan tontonan. Silat merupakan warisan budaya dan tradisi bangsa yang harus dijaga, dilestarikan, serta diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya,” ujar Rachmat.

Ia menambahkan, pelestarian pencak silat membutuhkan keberlanjutan tradisi, peran guru dan padepokan, keterlibatan pelaku budaya, serta regenerasi pesilat.

Rachmat juga berharap festival tersebut mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan UMKM, kuliner, kerajinan, dan produk lokal.

Menurutnya, Kampung Silat Nagarakembang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan ketika festival berlangsung, tetapi juga dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, tantangan Kampung Silat Nagarakembang bukan hanya mempertahankan kemeriahan festival, melainkan memastikan tradisi pencak silat tetap memiliki ruang untuk tumbuh, diwariskan, dan dikenal lebih luas.

 

Kontributor lapangan:kang eko

Terkini